Selasa, 28 Oktober 2008

My baby was born

Akhirnya, sebuah penantian berakhir dengan sebuah kebahagiaan. Istriku telah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik (itu menurut pribadi saya). Semuanya berawal ketika bulan Pebruari 2008. Istriku sudah beberapa hari terlambat datang tamunya. Aku sudah berharap-harap cemas. Semoga kejadian di bulan Januari tidak terulang lagi.
Pada bulan Januari itu istriku sudah terlambat hambpir dua minggu. Aku sudah senang gak karuan. Gimana gak seneng, Udah nikah 3 bulan masih belon ada tanda-tanda hamil. Padahal kami gak pernah ada rencana buat nunda kehamilan. Tapi, semua jadi buyar. Setelah dua minggu terlambat, ternyata tamunya akhirnya dating juga.


Sempet stress aku dibuatnya. Tapi istriku kasi support sama aku. Perkataan yang masi kuingat sebenarnya standart, tapi kadang aku lupa akan makna dan arti dari perkataan istriku itu. Dia bilang “Mas…., jodoh, rejeki, hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur, lebih baik kita pasrahkan pada Allah Yang Maha Kuasa. Pasti Allah punya rencana yang sangat baik buat kehidupan kita.”. Akhirnya aku dapat menahan emosiku. Selain itu aku jadi lebih menyayangi istriku. Walaupun kami berdua hidup dalam kesederhanaan, namun kami dapat menikmati hidup ini. Prinsip kami “Hidup memang sudah ada yang menggariskan, namun semua bisa berubah kalau kami mau berusaha. Selain itu Allah tidak pernah tidur apalagi lupa terhadap umat-Nya yang taqwa dan beriman”.


Akhirnya kesabaranku berbuah hasil. Bulan Pebruari 2008 akhirnya istriku dinyatakan HAMIL. Bisa dibayangkan betapa senangnya aku. Mulai saat itu aku mulai lebih care terhadap istriku. Bukannya sebelumnya aku gak sayang, tapi saat ini aku SUAYAAAAAAAAAANGGGGGGG BUAAAANGETTTTTTT.


Bulan demi bulan aku lalui. Kondisi kandungan istriku juga semakin besar dan baik. Setiap bulan gerakannya jadi lebih keras. Kebiasaan yang paling menyenangkan adalah waktu aku menempelkan telinga ke perut istriku. Detak jantung bayiku terdengar di telinga dan gak jarang pipiku ditendang olehnya. Tapi itu semua yang bikin aku seneng.
Saat kandungan usia 6 bulan, dokter memberi kabar kalau pinggul istriku sempit. Jadi kemungkinan besarnya adalah dilakukan operasi cesar ketika waktunya tiba. Sempet bingung juga aku dibuatnya. Yang pasti adalah masalah biaya. Kan kita pada tau kalo operasi cesar itu biayanya gak sedikit. Minimal diatas 6 juta. Duit dari mana sebanyak itu, sedangkan sumber penghasilan cuma dari aku saja. Tapi sekali lagi aku ingat kata-kata istriku kalo semua itu ada yang ngatur, kita gak usa kuatir selama kita mau berusaha.


Pada hari terakhir periksa rutin, kami menentukan tangga kelahiran. Pengennya bareng sama hari lahirku (23 Oktober) tapi jadwal Dr. Samodra yang merawat istri dan kandungannya selama ini tidak memungkinkan. Bahkan dalam menentukan rumah sakit tempat kelahiran kami juga bingung. Ada 2 pilihan, yaitu RSB Mardi Waloeja dan RSB RSIA Melati Husada. Karena RSB Mardi Waloeja menurut istriku kurang cocok dikarenakan bangunannya model lama Akhirnya kami putuskan tanggal 26 Oktober 2008 sebagai hari kelahiran bayiku dan RSIA Melati Husada sebagai tempat kelahiran.


Tanggal 25 Oktober 2008 istriku masuk rumah sakit pada pukul 21.30. Setelah istirahat semalam, jam 06.15 istriku sudah mulai masuk kamar operasi untuk pasang infus. Pada saat itu baru aku tau kalo istriku sangat dan super takut yang namanya jarum suntik. Dan tepat jam 08.00 operasi dimulai. Saat dimana proses operasi berlangsung itulah saat yang sangat gak terlupakan. Perasaan was-was akan kondisi bayi dan istriku yang gak pasti. Saat itu aku benar-benar berharap satu hal saja, “Ya Allah berilah keselamatan dan kesehatan terhadap istri dan anakku, juga berilah kesempurnaan terhadap anakku Ya Allah. Kabulkanlah permintaan hamba Ya Allah, sebab hanya Engkau yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan juga Engkaulah yang Maha Mengabulkan.”


Tepat jam 08.20 terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi. Tangisan yang sangat kencang. Aku akhirnya bias bernapas lega “Alhamdulillah anakku telah lahir” dan ketika salah satu perawat keluar, aku tanyakan tentang kondisi anakku. Bagaimana kondisi anak dan istriku? Apa jenis kelamin anakku? Dan saat anakku dibawa keluar untuk didengarkan suara adzan, saat itulah aku mulai menangis. Baru sekarang aku merasakan tangisan bahagia. Apalagi lihat cantiknya anakku. “Alhamdulillah, betapa sempurna rasanya hidup ini.”


Setelah keesokan harinya, istriku sudah mulai merasa lebih baik. Dan kami berdua member nama RAFA MARITZA SAFIRA yang artinya perempuan yang bahagia sebagai berkah Illahi yang istimewa. Aku harap nama yang kami berikan sesuai dengan jalan hidup anak kami. Amin

Tidak ada komentar: